Bagian 1: Konsep Spesies, Populasi, Komunitas, Ekosistem, dan Biosfer
A. Definisi dan Hierarki Ekologi
| Tingkat | Definisi | Contoh |
|---|---|---|
| Spesies | Kelompok makhluk hidup yang secara alami dapat saling kawin dan menghasilkan keturunan yang fertil (subur). | Panthera tigris (harimau), Oryza sativa (padi), Homo sapiens (manusia). |
| Populasi | Kumpulan individu dari spesies yang sama yang hidup di suatu wilayah dan waktu tertentu serta dapat saling berinteraksi secara reproduktif. | Populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser; populasi pohon jati di hutan jati Cepu. |
| Komunitas | Kumpulan berbagai populasi (berbeda spesies) yang hidup bersama dan saling berinteraksi di suatu habitat. | Komunitas terumbu karang (berisi ikan, karang, plankton, moluska); komunitas hutan hujan tropis. |
| Ekosistem | Sistem yang terbentuk oleh interaksi antara komunitas makhluk hidup (biotik) dengan lingkungan fisik (abiotik) tempat mereka hidup. | Ekosistem sawah (padi, rumput, tikus, ular, air, tanah, sinar matahari); ekosistem danau. |
| Biosfer | Lapisan bumi tempat kehidupan berlangsung (bagian dari litosfer, hidrosfer, dan atmosfer) yang mencakup semua ekosistem di planet Bumi. | Seluruh planet Bumi mulai dari dasar laut hingga puncak atmosfer tempat terdapat kehidupan. |
B. Hubungan Antar Tingkat
Spesies → Populasi → Komunitas → Ekosistem → Bioma (kelompok ekosistem serupa) → Biosfer
Bagian 2: Peran dan Saling Ketergantungan Organisme dalam Ekosistem
A. Komponen Ekosistem
Komponen Biotik (makhluk hidup):
Produsen (autotrof): Tumbuhan hijau, alga, fitoplankton. Mengubah energi matahari menjadi energi kimia (fotosintesis).
Konsumen (heterotrof): Herbivor (konsumen I), karnivor (konsumen II, III), omnivor.
Dekomposer (pengurai): Bakteri dan jamur. Menguraikan sisa organisme mati menjadi mineral yang kembali ke tanah.
Komponen Abiotik (fisik-kimia): Air, tanah, udara, suhu, cahaya matahari, kelembaban, pH, mineral, garam, angin.
B. Interaksi Saling Ketergantungan
| Jenis Interaksi | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Rantai makanan | Perpindahan energi makanan secara linear dari produsen ke konsumen puncak. | Padi → tikus → ular → elang |
| Jaring-jaring makanan | Kumpulan rantai makanan yang saling berhubungan (lebih realistis). | Sawah: padi dimakan tikus dan belalang; tikus dimakan ular dan burung hantu; belalang dimakan katak, dll. |
| Piramida ekologi | Piramida jumlah, biomassa, atau energi. Energi berkurang 90% setiap tingkat trofik (hukum 10% Lindeman). | Produsen (10.000 kJ) → kons I (1.000 kJ) → kons II (100 kJ) → kons III (10 kJ). |
| Simbiosis | Hubungan erat antar spesies berbeda. | Mutualisme (lebah+ bunga), Komensalisme (ikan remora+ hiu), Parasitisme (cacing pita+ manusia). |
| Kompetisi | Persaingan antar organisme untuk sumber daya terbatas (makanan, pasangan, wilayah). | Kompetisi interspesifik (singa vs hyena) dan intraspesifik (antar rusa jantan berebut betina). |
| Predasi | Pemangsaan satu organisme oleh organisme lain. | Kucing memakan tikus. |
C. Aliran Energi dan Daur Biogeokimia
Energi mengalir searah (matahari → produsen → konsumen → dekomposer → hilang sebagai panas). Materi (karbon, nitrogen, air) didaur ulang melalui siklus biogeokimia.
Bagian 3: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelangsungan Makhluk Hidup
A. Faktor Abiotik (Lingkungan Fisik)
| Faktor | Pengaruh terhadap Makhluk Hidup |
|---|---|
| Suhu | Mempengaruhi laju metabolisme (enzim). Setiap spesies memiliki suhu optimum, minimum, maksimum. |
| Cahaya matahari | Intensitas dan fotoperiode (lama penyinaran) mempengaruhi fotosintesis, pembungaan, migrasi hewan. |
| Air | Semua kehidupan membutuhkan air. Ketersediaan air menentukan tipe ekosistem (gurun vs hutan hujan). |
| Tanah | Tekstur, struktur, pH, kandungan mineral, dan bahan organik tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman. |
| Udara (oksigen, CO₂) | Oksigen untuk respirasi, CO₂ untuk fotosintesis. |
| Topografi | Ketinggian, kemiringan lereng mempengaruhi suhu, curah hujan, dan drainase. |
| Salinitas | Kadar garam mempengaruhi osmoregulasi organisme air. |
B. Faktor Biotik
Kompetisi, predasi, parasitisme, penyakit, ketersediaan pakan, dan interaksi dengan spesies lain.
C. Hukum Toleransi (Shelford)
Kelangsungan hidup organisme ditentukan oleh batas toleransi minimum dan maksimum terhadap faktor lingkungan. Di luar batas toleransi, organisme tidak dapat bertahan.
Bagian 4: Siklus Biogeokimia
Siklus biogeokimia adalah perpindahan unsur-unsur kimia dari lingkungan ke organisme dan kembali ke lingkungan.
A. Siklus Air (Hidrologi)
Proses: Evaporasi (air laut/sungai) → Transpirasi (tumbuhan) → Evapotranspirasi → Kondensasi → Presipitasi (hujan, salju) → Runoff (aliran permukaan) → Infiltrasi (air tanah) → Kembali ke laut.
B. Siklus Karbon
Proses: CO₂ di atmosfer → difotosintesis produsen menjadi karbohidrat → dimakan konsumen → respirasi melepas CO₂ kembali → pembakaran bahan bakar fosil (industri) → dekomposisi sisa organisme. Saat ini terjadi ketidakseimbangan karena emisi karbon berlebih (pemanasan global).
C. Siklus Nitrogen
Tahapan:
Fiksasi nitrogen: N₂ di udara diubah menjadi NH₃ (amonia) oleh bakteri Rhizobium (bintil akar legum) atau Azotobacter (tanah) dan petir.
Amonifikasi: Dekomposer mengubah protein/N organik menjadi NH₄⁺.
Nitrifikasi: Bakteri Nitrosomonas mengubah NH₄⁺ menjadi NO₂⁻, lalu Nitrobacter menjadi NO₃⁻ (nitrat, bentuk yang dapat diserap tumbuhan).
Asimilasi: Tumbuhan menyerap nitrat, hewan memakan tumbuhan.
Denitrifikasi: Bakteri Pseudomonas mengubah NO₃⁻ kembali menjadi N₂ ke atmosfer.
D. Siklus Fosfor
Tidak ada fase gas. Fosfor berasal dari pelapukan batuan fosfat → diserap tumbuhan → hewan → dikembalikan ke tanah melalui ekskresi dan dekomposisi. Berperan penting dalam ATP dan DNA.
Bagian 5: Peranan Organisme Tanah
Tanah bukan sekadar media, tetapi ekosistem yang hidup.
| Kelompok Organisme | Peran |
|---|---|
| Cacing tanah | Menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi dan drainase, mencampur bahan organik (bioturbasi). Kotoran cacing (kascing) kaya hara. |
| Bakteri tanah | Dekomposisi, fiksasi nitrogen, nitrifikasi, denitrifikasi, pelarutan fosfat. |
| Jamur tanah (mikoriza) | Membantu akar menyerap air dan mineral (terutama fosfor); meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. |
| Akar tumbuhan | Menahan erosi, menyediakan bahan organik, membentuk agregat tanah. |
| Rayap, semut, springtail | Menghancurkan serasah, membantu sirkulasi udara, mengubah struktur tanah. |
| Alga tanah | Menambat karbon, menghasilkan oksigen, memperbaiki struktur tanah. |
Bagian 6: Pengukuran Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara esensial dalam jumlah dan perbandingan yang tepat untuk pertumbuhan tanaman.
A. Indikator Kesuburan Fisik
Tekstur: Perbandingan pasir, debu, liat (tanah liat ideal karena banyak pori mikro).
Struktur: Kemampuan membentuk agregat (remah) → aerasi baik.
Porositas: Ruang pori untuk air dan udara.
Kedalaman solum: Semakin dalam, semakin baik.
B. Indikator Kesuburan Kimia
pH tanah: Ideal 6,0–7,0 (netral hingga agak masam). Terlalu masam (Al, Fe toksik); terlalu basa (P tidak tersedia).
Kandungan C-organik (bahan organik): Minimal 2% untuk tanah pertanian.
Ketersediaan hara makro (N, P, K): Dapat diukur dengan ekstraksi kimia (metode Bray, Olsen untuk P; KTK untuk K).
Kapasitas Tukar Kation (KTK): Kemampuan tanah menahan kation (Ca²⁺, Mg²⁺, K⁺, Na⁺) agar tidak tercuci. Semakin tinggi KTK, semakin subur.
Kejenuhan basa: Persentase basa-basa yang terjerap. >50% baik.
C. Indikator Biologi
Populasi mikroba tanah: Diukur dengan total bakteri, jumlah cacing tanah, aktivitas enzim (dehidrogenase, urease).
Laju dekomposisi serasah: Menggunakan uji kantong serasah (litter bag).
D. Metode Pengukuran di Lapangan
Pengamatan profil tanah (warna, struktur, akar).
Uji sederhana: Menggenggam tanah basah (tekstur), mengukur pH dengan kertas lakmus, mengamati keberadaan cacing.
Uji laboratorium: Analisis kimia (N-total, P-Bray, K-dd, pH, C-organik), analisis fisik (berat volume, porositas).
Bagian 7: Pentingnya Tanah dan Organisme Tanah untuk Keberlanjutan Kehidupan
Tanah sebagai tempat tumbuh >95% tanaman pangan dunia.
Penyaring dan buffer alami: Tanah menyerap dan menetralkan polutan, melindungi air tanah.
Daur ulang hara: Dekomposer mengubah bahan organik mati menjadi hara yang tersedia bagi tanaman.
Pengatur iklim mikro: Tanah menyimpan karbon (karbon tersimpan di tanah lebih banyak daripada di atmosfer dan vegetasi gabungan).
Sumber keanekaragaman hayati: Satu sendok tanah mengandung miliaran bakteri, jamur, dan protista.
Mencegah erosi dan banjir: Akar tanaman dan struktur tanah yang baik menahan air hujan.
Ancaman: Degradasi tanah (erosi, pemadatan, salinisasi, penurunan bahan organik) mengancam ketahanan pangan global. Diperlukan konservasi tanah (terasering, mulsa, rotasi tanaman, pengolahan tanah minimum).
Bagian 8: Daya Dukung Lingkungan
A. Definisi
Daya dukung lingkungan (carrying capacity) adalah kemampuan suatu lingkungan untuk mendukung kehidupan populasi maksimum suatu spesies tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan yang permanen.
Daya dukung (K) = jumlah maksimum individu yang dapat ditampung oleh sumber daya yang tersedia (makanan, air, tempat tinggal).
B. Kurva Pertumbuhan Populasi
Eksponensial (J-curve): Populasi tumbuh tak terbatas jika sumber daya tak terbatas (jarang terjadi di alam).
Logistik (S-curve): Populasi tumbuh cepat lalu melambat dan berfluktuasi di sekitar daya dukung (K).
C. Faktor yang Mempengaruhi Daya Dukung
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Ketersediaan sumber daya | Air bersih, pangan, energi, lahan. |
| Limbah dan polusi | Jika limbah melebihi kemampuan asimilasi lingkungan, daya dukung menurun. |
| Teknologi | Teknologi dapat meningkatkan daya dukung sementara (pupuk, irigasi), tetapi bisa menimbulkan masalah baru. |
| Kepadatan penduduk | Semakin tinggi kepadatan, semakin besar tekanan pada daya dukung. |
D. Daya Dukung pada Manusia
Jejak ekologis (ecological footprint) adalah ukuran luas lahan produktif yang dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi dan menyerap limbah seseorang/populasi.
Jika jejak ekologis > daya dukung (biokapasitas), terjadi overshoot (defisit ekologis). Saat ini umat manusia menggunakan setara 1,6 planet Bumi.
Bagian 9: Habitat dan Adaptasi Makhluk Hidup
A. Habitat
Habitat adalah tempat alami di mana suatu spesies hidup dan berkembang biak. Contoh: habitat harimau = hutan tropis; habitat ikan paus = laut.
B. Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Adaptasi terbagi menjadi tiga jenis:
| Jenis Adaptasi | Definisi | Contoh |
|---|---|---|
| Morfologi (struktur tubuh) | Penyesuaian bentuk atau struktur organ tubuh. | Paruh burung finch di Galapagos (berbeda sesuai jenis makanan); kaki bebek berselaput untuk berenang; kaktus memiliki duri untuk mengurangi penguapan. |
| Fisiologi (fungsi tubuh) | Penyesuaian fungsi metabolisme atau proses internal. | Bakteri termofil memiliki enzim tahan panas; manusia di dataran tinggi memproduksi lebih banyak eritrosit (sel darah merah); unta dapat menyimpan air dan tahan dehidrasi. |
| Tingkah laku (behavioral) | Penyesuaian perilaku untuk bertahan hidup. | Migrasi burung; hibernasi beruang; kadal berjemur di pagi hari; burung cenderawasih melakukan tarian untuk menarik pasangan. |
C. Seleksi Alam (penjelasan lebih lanjut di bagian 10)
Adaptasi muncul melalui proses seleksi alam. Individu dengan sifat yang lebih sesuai (adaptif) akan bertahan, bereproduksi, dan mewariskan sifat tersebut.
Bagian 10: Konsep Seleksi Alam
A. Definisi
Seleksi alam adalah mekanisme evolusi di mana individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup di lingkungan tertentu cenderung bertahan hidup dan bereproduksi lebih banyak daripada individu tanpa sifat tersebut. Akibatnya, frekuensi sifat menguntungkan meningkat dalam populasi dari generasi ke generasi.
B. Prinsip Dasar (Charles Darwin)
Variasi: Individu dalam satu populasi memiliki variasi sifat (ukuran, warna, metabolisme).
Kelebihan keturunan: Populasi menghasilkan lebih banyak keturunan daripada yang dapat bertahan hidup.
Kompetisi: Terjadi perebutan sumber daya terbatas.
Kelangsungan hidup berbeda: Individu dengan sifat adaptif lebih mungkin selamat dan bereproduksi.
Pewarisan: Sifat adaptif diwariskan ke keturunan.
C. Contoh Seleksi Alam
| Contoh | Penjelasan |
|---|---|
| Ngengat Biston betularia (Inggris) | Sebelum revolusi industri, ngengat cerah lebih banyak karena tersamar di lumut. Setelah polusi gelap, ngengat gelap lebih tersamar di batang pohon yang tertutup jelaga. Frekuensi gen untuk warna gelap meningkat (seleksi alam oleh predator). |
| Resistensi bakteri terhadap antibiotik | Bakteri yang secara alami memiliki gen resisten akan bertahan saat terpapar antibiotik, berkembang biak, dan membentuk populasi resisten. |
| Kaki kuda nil purba | Nenek moyang kuda nil memiliki jari-jari kaki. Seleksi alam untuk lari cepat di padang rumput menghasilkan kuda modern dengan satu jari (kuku). |
D. Seleksi Alam vs Evolusi
Seleksi alam adalah mekanisme; evolusi adalah hasil (perubahan frekuensi alel dalam populasi dari waktu ke waktu).
Bagian 11: Konsep Pencemaran Lingkungan dan Usaha Penanggulangannya
A. Definisi Pencemaran
Pencemaran adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu yang ditetapkan dan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.
B. Jenis Pencemaran
| Jenis | Sumber Utama | Dampak | Penanggulangan |
|---|---|---|---|
| Air | Limbah industri (logam berat, deterjen), limbah domestik (tinja, sabun), pertanian (pupuk, pestisida). | Eutrofikasi (ledakan alga), kematian biota air, penyakit (kolera, tifus). | IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), wetland buatan, bioremediasi, penggunaan deterjen ramah lingkungan, larangan pembuangan limbah ke sungai. |
| Udara | Asap pabrik (SO₂, NOâ‚“), kendaraan bermotor (CO, HC, partikel), pembakaran sampah, kebakaran hutan. | Hujan asam, iritasi pernapasan (ISPA), asma, kanker paru, efek rumah kaca, penipisan ozon. | Catalytic converter pada kendaraan, bahan bakar rendah sulfur, energi terbarukan, reboisasi, pengendalian emisi industri (scrubber). |
| Tanah | Sampah plastik, limbah B3 (bahan berbahaya beracun), pestisida berlebih, limbah tambang. | Penurunan kesuburan, kontaminasi logam berat ke rantai makanan, kerusakan mikroba tanah. | Reduce-Reuse-Recycle (3R), remediasi tanah (fitoremediasi, bioremediasi), pertanian organik, pengelolaan sampah terpadu. |
| Suara | Mesin pabrik, kendaraan, pesawat, pengeras suara. | Gangguan pendengaran, stres, peningkatan tekanan darah. | Peredam suara, pelindung telinga, zonasi industri-perumahan, pembatasan jam kebisingan. |
C. Prinsip Penanggulangan Pencemaran
Preventif: Mencegah pencemaran sejak awal (teknologi bersih, AMDAL, pengawasan).
Kuratif: Mengobati/memulihkan lingkungan yang sudah tercemar (bioremediasi, fitoremediasi, reboisasi).
Edukatif: Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pendidikan lingkungan.
Regulatif: Penegakan hukum lingkungan (Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup).
Bagian 12: Dampak Kegiatan Industri terhadap Lingkungan
| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Emisi gas rumah kaca | Industri berbahan bakar fosil (batu bara, minyak) melepas CO₂, CH₄, N₂O → pemanasan global. |
| Pencemaran air | Limbah cair industri mengandung logam berat (Hg, Pb, Cd), sianida, minyak, pelarut organik. Contoh: Kasus Minamata (Jepang) akibat merkuri dari pabrik. |
| Hujan asam | SO₂ dan NOâ‚“ dari pembakaran batu bara dan pabrik baja bereaksi dengan air hujan membentuk H₂SO₄ dan HNO₃, merusak hutan, danau, dan bangunan. |
| Kerusakan lahan | Penambangan (open pit) menyebabkan erosi, pengasaman air tambang (acid mine drainage), dan hilangnya topsoil. |
| Limbah B3 | Limbah bahan berbahaya beracun jika tidak dikelola dengan benar mencemari tanah dan air tanah. |
| Gangguan kesehatan masyarakat | Polutan udara dari industri meningkatkan kasus asma, bronkitis, kanker paru di sekitar kawasan industri. |
Solusi:
Penerapan teknologi ramah lingkungan (produksi bersih, daur ulang limbah, efisiensi energi).
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) wajib sebelum pembangunan industri.
Penggunaan energi terbarukan (surya, angin, biomassa) menggantikan fosil.
Bagian 13: Hubungan Kepadatan Manusia terhadap Kebutuhan Air Bersih, Udara Bersih, Pangan, Lahan, Kesehatan, dan Kualitas Lingkungan Hidup
| Aspek | Pengaruh Kepadatan Penduduk Tinggi | Contoh Permasalahan |
|---|---|---|
| Air bersih | Permintaan melebihi ketersediaan; pencemaran sumber air oleh limbah domestik dan industri. | Kota besar seperti Jakarta, Delhi, Mexico City mengalami defisit air bersih. |
| Udara bersih | Meningkatnya emisi kendaraan, industri, dan pembakaran sampah; konsentrasi polutan (PM2,5, NO₂) naik. | Jakarta, Beijing, Los Angeles sering mengalami kabut asap (smog). |
| Pangan | Kebutuhan pangan meningkat → perlu intensifikasi pertanian (pupuk, pestisida berlebih) atau ekstensifikasi (konversi hutan). | Alih fungsi lahan sawah ke perumahan mengancam ketahanan pangan. |
| Lahan | Konversi lahan pertanian, hutan, dan ruang terbuka hijau menjadi pemukiman dan industri. | Hilangnya daerah resapan air menyebabkan banjir; hilangnya habitat satwa. |
| Kesehatan | Penyakit menular lebih mudah menyebar (TB, influenza, COVID-19); sanitasi buruk menyebabkan diare, kolera; polusi udara memicu ISPA. | Permukiman kumuh (slum) di kota besar. |
| Kualitas lingkungan | Limbah padat (sampah) meningkat; kebisingan; stres akibat kepadatan; penurunan estetika. | Sungai tercemar, gunung sampah, TPA overload. |
Solusi:
Keluarga berencana (pengendalian laju pertumbuhan penduduk).
Pembangunan perkotaan berkelanjutan (kota hijau, transportasi massal, ruang terbuka hijau).
Peningkatan infrastruktur air bersih dan sanitasi (SPAM, IPAL, MCK).
Sistem pertanian perkotaan (urban farming, vertikultur).
Bagian 14: Permasalahan Lingkungan Lokal, Nasional, Regional, dan Global
A. Lokal (skala desa/kota/kabupaten)
Banjir dan genangan akibat drainase buruk, sampah menyumbat sungai.
Kekeringan pada musim kemarau (terutama daerah kapur dan lahan kering).
Sampah tidak terkelola (pembakaran sampah rumah tangga, TPA ilegal).
Konflik lahan antara pertanian dan pemukiman.
B. Nasional (Indonesia)
Deforestasi dan kebakaran hutan (terutama Sumatera dan Kalimantan) → kabut asap lintas provinsi, hilangnya habitat orangutan, harimau, gajah.
Kerusakan terumbu karang akibat penangkapan ikan dengan bom atau sianida, sedimentasi, pemutihan karang.
Pencemaran sungai (Citarum, Brantas, Musi) oleh limbah industri tekstil dan domestik.
Tambang ilegal (emas, timah, nikel) menyebabkan erosi dan pencemaran merkuri.
C. Regional (lintas negara, misal Asia Tenggara)
Kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan di Indonesia (dirasakan Malaysia, Singapura, Thailand).
Polusi udara perkotaan (Jakarta, Bangkok, Manila) yang mempengaruhi kesehatan regional.
Pencemaran laut (Selat Malaka, Laut Cina Selatan) oleh tumpahan minyak dan sampah plastik.
Penangkapan ikan ilegal yang merusak stok ikan di perairan regional.
D. Global (seluruh dunia)
| Permasalahan | Penjelasan |
|---|---|
| Pemanasan global | Peningkatan suhu rata-rata bumi akibat emisi gas rumah kaca. |
| Penipisan lapisan ozon | Penurunan ozon stratosfer akibat CFC (chlorofluorocarbon) → peningkatan radiasi UV-B → kanker kulit, kerusakan ekosistem. |
| Hilangnya keanekaragaman hayati | Kepunahan massal spesies akibat perusakan habitat, perubahan iklim, perburuan. |
| Polusi plastik laut | Mikroplastik ditemukan di seluruh lautan, masuk ke rantai makanan. |
| Pengasaman laut | Penyerapan CO₂ berlebih oleh laut menurunkan pH, mengancam organisme berkalsium (karang, moluska). |
Bagian 15: Pemanasan Global dan Dampak bagi Ekosistem
A. Definisi dan Penyebab
Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Penyebab utama: efek rumah kaca yang diperkuat oleh aktivitas manusia (emisi CO₂, CH₄, N₂O, fluorinated gases) dari pembakaran fosil, deforestasi, pertanian, peternakan, dan industri.
B. Dampak Pemanasan Global terhadap Ekosistem
| Dampak | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Mencairnya es kutub dan gletser | Volume air laut bertambah, permukaan laut naik. | Greenland dan Antarktika kehilangan miliaran ton es per tahun. |
| Kenaikan permukaan air laut | Menggenangi pulau-pulau kecil dan kota pesisir. | Jakarta (rob), Maladewa, Kiribati terancam tenggelam. |
| Perubahan pola curah hujan | Beberapa wilayah lebih kering (gurun meluas), lainnya lebih basah (banjir). | Kekeringan di Afrika Sub-Sahara; banjir bandang di Eropa. |
| Pemutihan karang (coral bleaching) | Suhu laut tinggi menyebabkan karang mengeluarkan alga simbion (zooxanthellae), karang mati. | Great Barrier Reef Australia kehilangan 50% karangnya. |
| Perubahan distribusi spesies | Spesies bermigrasi ke daerah lebih dingin (ke kutub atau ke gunung). | Beruang kutub kehilangan habitat es laut; spesies tropis bergerak ke subtropis. |
| Gangguan siklus hidup | Waktu berbunga, migrasi, dan reproduksi tidak sinkron dengan ketersediaan makanan. | Burung migran tiba setelah puncak serangga (mismatch fenologi). |
| Kepunahan spesies | Spesies yang tidak dapat beradaptasi atau bermigrasi akan punah. | Amfibi (katak) sangat rentan; spesies endemik gunung. |
| Meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem | Badai, topan, gelombang panas, kekeringan lebih intens. | Topan Haiyan (2013); gelombang panas Eropa 2003 (70.000 kematian). |
C. Solusi Mitigasi dan Adaptasi
Mitigasi (mengurangi penyebab): Transisi ke energi terbarukan, efisiensi energi, reboisasi, pertanian karbon rendah, pengurangan emisi metana dari peternakan.
Adaptasi (menyesuaikan diri): Membangun tanggul laut, mengembangkan varietas tanaman tahan kekeringan/banjir, sistem peringatan dini cuaca ekstrem, relokasi penduduk dari daerah rawan.
Bagian 16: Konservasi Lingkungan
A. Definisi dan Tujuan
Konservasi adalah upaya perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi sekarang dan mendatang.
Tujuan konservasi:
Melindungi keanekaragaman hayati (spesies, gen, ekosistem).
Mempertahankan fungsi ekosistem (daur hara, pengatur iklim, penyedia air).
Memanfaatkan sumber daya alam secara lestari (tidak melampaui daya dukung).
Memulihkan ekosistem yang rusak (restorasi).
B. Metode Konservasi
| Metode | Contoh |
|---|---|
| Konservasi in situ (di habitat asli) | Cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional (TN Gunung Leuser, TN Komodo), taman hutan raya. |
| Konservasi ex situ (di luar habitat asli) | Kebun raya (Bogor), bank benih, kebun binatang, penangkaran (burung cendrawasih, penyu), kriopresensi (pembekuan sperma/embrio). |
| Konservasi berbasis masyarakat | Hutan desa, taman wisata alam, kawasan konservasi laut dengan zona pemanfaatan terbatas. |
| Rehabilitasi dan restorasi | Reboisasi lahan kritis, rehabilitasi terumbu karang (transplantasi), revegetasi lahan pasca tambang. |
C. Prinsip Konservasi Modern
Ekosistem berbasis (bukan spesies tunggal): Melindungi seluruh fungsi ekosistem.
Keterlibatan masyarakat lokal: Masyarakat adat dan lokal sebagai mitra konservasi.
Konektivitas habitat: Membangun koridor satwa liar agar populasi tidak terisolasi.
Pendekatan lanskap: Mengintegrasikan konservasi dengan kebutuhan manusia (zoning).
D. Peraturan Konservasi di Indonesia
UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan tentang kawasan suaka alam (Cagar Alam, Suaka Margasatwa) dan kawasan pelestarian alam (Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam).
Bagian 17: Pembangunan Berkelanjutan
A. Definisi (Brundtland Commission, 1987)
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
B. Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan
| Pilar | Fokus | Contoh Indikator |
|---|---|---|
| Lingkungan (ekologi) | Menjaga integritas ekosistem, sumber daya alam, keanekaragaman hayati. | Jejak ekologis, emisi karbon, kualitas air/udara, luas hutan. |
| Sosial | Keadilan, partisipasi masyarakat, akses pendidikan dan kesehatan, pengentasan kemiskinan. | Indeks Pembangunan Manusia (IPM), rasio gender, akses air bersih. |
| Ekonomi | Pertumbuhan ekonomi yang inklusif, efisien sumber daya, inovasi ramah lingkungan. | PDB hijau (green GDP), investasi energi terbarukan, lapangan kerja hijau. |
C. Sustainable Development Goals (SDGs)
PBB menetapkan 17 tujuan global untuk dicapai pada tahun 2030. Yang paling relevan dengan ekologi:
SDG 6: Air bersih dan sanitasi layak.
SDG 7: Energi bersih dan terjangkau.
SDG 11: Kota dan pemukiman berkelanjutan.
SDG 12: Konsumsi dan produksi bertanggung jawab.
SDG 13: Penanganan perubahan iklim.
SDG 14: Ekosistem laut.
SDG 15: Ekosistem daratan.
D. Implementasi di Indonesia
Program Kampung Iklim (ProKlim): Pengurangan emisi gas rumah kaca berbasis masyarakat.
Ekonomi sirkular: Daur ulang sampah, pengurangan plastik sekali pakai.
Energi terbarukan: Pembangunan PLTS (surya), PLTB (bayu), PLTMH (mikrohidro), dan bioenergi.
Pengelolaan sampah: Bank sampah, TPA dengan sistem sanitary landfill dan pengolahan gas metana.
Pertanian berkelanjutan: Sistem pertanian organik, agroforestri, Sistem Intensifikasi Padi (SRI) hemat air.
E. Tantangan Pembangunan Berkelanjutan
Konflik antara pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan kelestarian lingkungan.
Lemahnya penegakan hukum lingkungan.
Pola konsumsi masyarakat yang tidak ramah lingkungan.
Deforestasi dan konversi lahan untuk perkebunan sawit, pertambangan.
Perubahan iklim yang memperparah kerentanan.
Rangkuman Akhir Ekologi
Ekologi mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Hierarki dimulai dari spesies, populasi, komunitas, ekosistem, hingga biosfer. Organisme saling tergantung melalui rantai makanan, simbiosis, dan daur biogeokimia (air, karbon, nitrogen, fosfor). Faktor abiotik (suhu, air, cahaya) dan biotik membatasi kelangsungan hidup. Tanah dan organisme tanah (cacing, bakteri, jamur) sangat penting untuk kesuburan dan daur hara. Daya dukung lingkungan menentukan ukuran populasi maksimum. Adaptasi (morfologi, fisiologi, perilaku) dihasilkan oleh seleksi alam sebagai mekanisme evolusi.
Pencemaran (air, udara, tanah, suara) mengancam kesehatan dan ekosistem. Kepadatan penduduk meningkatkan kebutuhan air bersih, pangan, lahan, dan menurunkan kualitas lingkungan. Permasalahan lingkungan terjadi dari skala lokal (banjir, sampah), nasional (deforestasi, kerusakan karang), regional (kabut asap lintas batas), hingga global (pemanasan global, penipisan ozon). Pemanasan global menyebabkan kenaikan permukaan laut, pemutihan karang, perubahan distribusi spesies, dan cuaca ekstrem.
Konservasi (in situ dan ex situ) dan pembangunan berkelanjutan (menyeimbangkan lingkungan, sosial, ekonomi) adalah solusi untuk masa depan bumi. Setiap individu berperan dalam mengurangi jejak ekologis, menghemat energi, mengelola sampah, dan mendukung kebijakan ramah lingkungan.
SOAL HOTS
Soal Nomor 1
Perhatikan gambar di bawah ini!
Interaksi predasi ditunjukkan interaksi oleh. . .
A. Spesies A dan B
B. Spesies B dan C
C. Spesies B dan D
D. Spesies C dan D
(Sumber: soal nomor 3, halaman 2)
Soal Nomor 2
Migrasi burung pelikan dari benua Australia ke daratan Asia dipicu oleh faktor... .
A. kerusakan hutan
B. musim kemarau panjang
C. iklim
D. perburuan liar
(Sumber: soal nomor 15, halaman 5)
Soal Nomor 3
Sebuah lahan pertanian di daerah lereng bukit mengalami kondisi sebagai berikut:
| Kondisi Tanah | Keterangan |
|---|---|
| Kemiringan lereng | 30° |
| Jenis tanah | Pasir berlempung dengan struktur gembur |
| Curah hujan tahunan | 2000 mm |
| Tanaman penutup tanah | Minim, hanya rumput liar yang jarang tumbuh |
| Aktivitas manusia | Penggembalaan dan pembukaan lahan baru |
Berdasarkan data tersebut, tindakan konservasi tanah manakah yang paling tepat untuk mencegah erosi?
A. Membuat terasering dan menanam tanaman penutup yang rapat
B. Mengganti jenis tanaman dengan tanaman akar serabut yang dangkal
C. Memperdalam parit drainase tanpa menambah vegetasi penutup
D. Membuat saluran irigasi terbuka untuk mempercepat aliran air
(Sumber: soal nomor 10, halaman 56, Kumpulan Soal OSN)
Soal Nomor 4
Di sebuah daerah gurun yang sangat panas dan kering, ditemukan beberapa makhluk hidup dengan ciri-ciri berikut:
kaktus memiliki daun yang berubah menjadi duri dan batang yang tebal berfungsi menyimpan air.
unta memiliki punuk yang menyimpan lemak dan bulu tebal sebagai pelindung dari panas dan dingin.
burung hantu aktif di malam hari dan memiliki penglihatan tajam di kegelapan.
ikan paus memiliki lapisan lemak tebal untuk menjaga suhu tubuh dalam air dingin.
Manakah pernyataan yang tepat mengenai tipe adaptasi yang dimiliki oleh makhluk hidup tersebut?
A. Semua contoh di atas merupakan adaptasi fisiologis
B. Kaktus dan unta menunjukkan adaptasi morfologis, sedangkan burung hantu dan ikan paus menunjukkan adaptasi fisiologis
C. Unta dan burung hantu menunjukkan adaptasi tingkah laku, sedangkan kaktus dan ikan paus adaptasi morfologis
D. Burung hantu dan ikan paus menunjukkan adaptasi morfologis, sedangkan kaktus dan unta adaptasi fisiologis
*(Sumber: soal nomor 11, halaman 56-57, Kumpulan Soal OSN)*
Soal Nomor 5
Sejumlah tumbuhan ditemukan di berbagai habitat dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Berikut adalah data mengenai struktur dan fungsi beberapa tumbuhan beserta lingkungan tempat mereka hidup:
| Tumbuhan | Struktur Khusus | Fungsi Struktur | Lingkungan |
|---|---|---|---|
| Kaktus | Daun berubah menjadi duri | Mengurangi penguapan dan melindungi tanaman | Gurun yang sangat kering |
| Teratai | Daun lebar dan berlapis lilin | Memperluas permukaan fotosintesis dan menolak air | Perairan tergenang |
| Pandan laut | Akar napas (pneumatophore) | Mengambil oksigen dari udara di lingkungan berlumpur | Pantai berlumpur |
| Mangrove | Akar tunjang dan garpu | Menopang tanaman di tanah berlumpur dan membantu pertukaran gas | Muara sungai dan rawa |
Berdasarkan data tersebut, pernyataan yang paling tepat mengenai hubungan struktur dan fungsi tumbuhan dalam proses adaptasi adalah…
A. Struktur akar napas pada pandan laut membantu fotosintesis pada habitat berlumpur
B. Daun kaktus yang berubah menjadi duri berfungsi sebagai alat reproduksi utama di gurun
C. Daun teratai yang lebar beradaptasi untuk memperluas area penyerapan air di habitat perairan
D. Akar tunjang dan garpu pada mangrove berfungsi menstabilkan tanaman dan mendukung adaptasi di lingkungan berlumpur
(Sumber: soal nomor 12, halaman 57, Kumpulan Soal OSN)
Soal Nomor 6
Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah penduduk (dalam ribuan jiwa) sebuah kota selama 6 tahun terakhir.
| Tahun | 2017 | 2018 | 2019 | 2020 | 2021 | 2022 | 2023 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jumlah Penduduk (ribu jiwa) | 100 | 108 | 117 | 126 | 136 | 147 | 159 |
Berdasarkan data di atas, tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun (%) selama periode 2017–2023 adalah…
A. 7,3%
B. 8,0%
C. 6,5%
D. 5,7%
(Sumber: soal nomor 13, halaman 58, Kumpulan Soal OSN)
Soal Nomor 7
Dalam suatu rantai makanan, makhluk hidup yang memakan produsen merupakan konsumen tingkat ke- … dan akan menduduki tingkat tropik ke- … .
A. satu; satu
B. satu; dua
C. dua; satu
D. dua; dua
*(Sumber: soal nomor 4, halaman 40, TIPE-1)*
Soal Nomor 8
Keanekaragaman hayati yang tinggi di daerah tropis dimungkinkan oleh adanya faktor berikut kecuali … .
A. curah hujan yang tinggi
B. suhu yang hangat
C. perbedaan suhu yang relatif tinggi
D. cahaya matahari ada sepanjang tahun
*(Sumber: soal nomor 6, halaman 40, TIPE-1)*
Soal Nomor 9
Berikut ini adalah beberapa interaksi dalam suatu komunitas:
amensalisme
kompetisi
parasitisme
mutualisme
Jenis interaksi yang memberikan keuntungan minimal pada salah satu pihak yang berinteraksi adalah … .
A. 1, 2
B. 2, 4
C. 1, 3
D. 2, 3
*(Sumber: soal nomor 23, halaman 45, TIPE-2)*
Soal Nomor 10
Berikut adalah hewan yang dapat ditemukan di ekosistem mangrove:
keong
kerang
ikan
kepiting
Di antara hewan tersebut, yang memiliki kekerabatan paling dekat adalah … .
A. 1, 2, 3
B. 1, 2
C. 3, 4
D. 2, 4
*(Sumber: soal nomor 24, halaman 46, TIPE-2)*
Soal Nomor 11
Perhatikan interaksi antar organisme berikut.
Pinus sp. dengan gulma
Penicillium sp. dengan bakteri
Dinoflagelata sp. dengan ikan
Juglans sp. dengan alang-alang
Zea mays dengan gulma
Simbiosis alelopati berikut ini yang tepat adalah ….
A. 1, 2, dan 3
B. 1, 3, dan 5
C. 2, 3, dan 4
D. 2, 4, dan 5
(Sumber: soal nomor 16, halaman 27)
SOAL MOTS
1. Jika diketahui bahwa anggota komunitas sawah adalah ular, tikus sawah, dan burung elang, maka bila suatu saat ditemukan fenomena populasi tikus sawah sangat rendah, hipotesis yang kurang tepat untuk diajukan adalah.....
A. burung elang sering ditangkap manusia
B. ular sering diburu oleh manusia
C. sawah sedang tidak ditanami padi
D. tikus juga merupakan mangsa burung elang
2. Jika satuan kecil makhluk hidup yang dapat kita temukan pada suatu populasi adalah individu, maka satuan terkecil yang dapat kita temukan pada suatu ekosistem adalah......
A. komunitas
B. populasi
C. individu
D. habitat
3. Dalam ekologi, kingdom fungi mempunyai peranan sebagai....
A. produsen
B. konsumen tingkat 1
C. konsumen tingkat 2
D. dekomposer
4. Populasi yang tidak dapat kita temukan pada komunitas di padang rumput adalah.....
A. populasi hyena
B. populasi harimau
C. populasi singa
D. populasi zebra
5. Hal – hal berikut yang tidak menunjukkan hubungan erat antara habitat dan adaptasi makhluk hidup adalah.....
A. singa memiliki gigi taring dan kuku yang tajam
B. kelinci memiliki rambut warna putih dan tebal saat musim salju
C. burung air memiliki paruh dan kaki yang panjang
D. hewan gurun pasir aktif pada malam hari
6. Aktivitas berikut ini yang bukan merupakan upaya mengurangi pencemaran udara adalah..... (pilihan tidak tersedia dalam soal asli)
7. Yang bukan contoh bahan pencemar pada air adalah....
A. detergen dari aktivitas rumah tangga
B. panas yang dihasilkan PLTU
C. pestisida dari lahan pertanian
D. CO₂ yang dihasilkan industri
8. Contoh keterkaitan antara tingginya populasi manusia dengan kebutuhan lahan adalah:
A. maraknya pembangunan vila di daerah – daerah dataran tinggi
B. maraknya kendaraan yang parkir di areal parkir umum
C. maraknya pembangunan rumah susun dan bangunan bertingkat
D. maraknya intensifikasi lahan pertanian
9. Yang bukan merupakan contoh kerusakan lingkungan akibat keterkaitan antara meningkatnya populasi manusia dengan kebutuhan pangan adalah.....
A. abrasi pantai
B. pencemaran pestisida
C. eutrofikasi yang menyebabkan blooming alga
D. berlubangnya lapisan ozon
10. Organisme yang terseleksi oleh alam sehingga tidak mampu melanjutkan keturunannya adalah . . .
A. katak yang tinggal di liang tanah yang lembab
B. landak yang tubuhnya berduri
C. pohon jati yang menggugurkan daun di musim kemarau
D. kupu-kupu beragam warna pada daerah industri
11. Bentuk adaptasi beruang kutub pada musim dingin yang panjang adalah...
A. melakukan tidur panjang untuk menghemat energi
B. mengubah warna tubuhnya untuk mengelabui musuh
C. merontokkan rambut di tubuhnya untuk menahan panas
D. berburu makanan sebanyak mungkin untuk persediaan makanan
12. Kondisi demografi kota-kota besar di Indonesia menunjukkan laju pertambahan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun, namun luas wilayah tetap. Dampak dari kondisi tersebut adalah . . .
A. meningkatkan kadar uap air di udara
B. meningkatkan kadar oksigen di udara
C. menurunnya kadar karbondioksida di udara
D. lahan pertanian semakin berkurang
13. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil pengamatan siswa terhadap penyebaran Mimosa pudica di kebun sekolah.
| Kuadrat | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jumlah tanaman | 5 | 2 | 0 | 1 | 8 | 2 | 0 | 3 | 4 | 0 |
Persentase keberadaan Mimosa pudica adalah . . .
A. 25%
B. 36%
C. 66%
D. 70%
14. Liken adalah organisme yang sensitif terhadap polusi udara. Grafik berikut ini menunjukkan bagaimana pengaruh jarak dari pertambangan batubara berdampak terhadap pertumbuhan jumlah dari jenis liken. Kesimpulan apa yang dapat dibuat berdasarkan informasi dari grafik tersebut?
A. Liken tumbuh dengan cepat di dekat pertambangan
B. Liken tumbuh lebih lambat dekat dengan pertambangan
C. Terdapat sedikit jenis Liken yang tumbuh dekat pertambangan
D. Terdapat banyak jenis Liken yang tumbuh dekat pertambangan
15. Komponen biotik memiliki ciri yang berbeda dengan komponen abiotik. Berikut ini adalah ciri komponen biotik . . .
bernapas
iritabilitas
mengalami siklus
16. Dampak dari meningkatkan jumlah penduduk di perkotaan mempengaruhi kebutuhan akan pangan, sehingga pola pertanian pun berubah dari pola pertanian konvensional ke sistem pertanian modern. Sistem pertanian modern dapat mengakibatkan permasalahan terhadap lingkungan berupa . . .
resistensi hama tanaman
pencemaran air tanah dan air permukaan
terjaminnya keseimbangan rantai makanan
17. Berdasarkan jaring-jaring makanan berikut ini, tingkat trofik kedua ditempati oleh . . .
burung pipit
ulat
tikus
18. Berikut ini yang merupakan simbiosis komensalisme yang terjadi di antara sesama makhluk hidup adalah . . .
bakteri yang hidup di dalam usus herbivora
bakteri Rhizobium pada tumbuhan kacang-kacangan
tanaman benalu yang menempel di pohon jambu
19. CFC (klorofluorokarbon) merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. Akibat penggunaan CFC yaitu ...
lapisan ozon di atmosfer berkurang
sinar ultraviolet yang sampai ke permukaan bumi meningkat
mutasi genetik meningkat
20. Terjadinya kebakaran hutan pada saat musim kemarau menyebabkan ....
meningkatkan gas CO₂
pemanasan global
efek rumah kaca
21. Penggunaan bahan pengawet ke dalam makanan membahayakan kesehatan manusia. Bahan tambahan makanan yang boleh digunakan dalam jumlah tertentu adalah ...
asam sitrat
sodium glutamat
asam boraks
22. Perhatikan tabel di bawah ini!
| Jam | Suhu udara (°C) | Suhu tubuh hewan (°C) | |||
|---|---|---|---|---|---|
| I | II | III | IV | ||
| 6 pagi | 18 | 19 | 18 | 20 | 26 |
| 12 siang | 28 | 28 | 26 | 30 | 27 |
| 6 sore | 21 | 20 | 21 | 22 | 26 |
| 12 malam | 16 | 16 | 16 | 17 | 25 |
Berdasarkan data di atas, hewan yang memerlukan energi paling besar dalam mengatur suhu tubuhnya adalah...
A. I
B. II
C. III
D. IV
23. Fitoremediasi adalah salah satu teknik yang digunakan untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang tercemar. Organisme yang digunakan pada teknik tersebut adalah...
A. bentos
B. fungi
C. tumbuhan
D. hewan
24. Jenis daun atau sisa tumbuhan yang paling baik untuk dijadikan kompos adalah...
A. rumput-rumputan
B. daun bambu
C. polong-polongan
D. campuran dedaunan dan rumput
25. Pernyataan yang salah tentang hubungan beberapa faktor abiotik adalah...
A. apabila kecepatan angin tinggi maka menyebabkan proses evaporasi menjadi lebih cepat dan kelembapan udara semakin tinggi
B. intensitas cahaya tinggi menyebabkan evaporasi meningkat dan kelembapan tanah berkurang
C. intensitas cahaya tinggi, menyebabkan suhu udara meningkat dan evaporasi meningkat
D. kecepatan angin tinggi menyebabkan suhu udara menurun dan kelembapan menurun
26. Perhatikan grafik pertumbuhan populasi di bawah ini!
Berdasarkan data di atas maka penduduk pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah...
A. 5935
B. 6067
C. 6383
D. 6703
27. Penduduk di kota A pada tahun 2019 sebanyak 150.000 jiwa. Data statistik pada BPS kota A menunjukkan tingkat kematiannya adalah 5% per tahun, tingkat kelahirannya 2% per tahun, tingkat emigrasi 8% per tahun dan imigrasi 2% per tahun. Tentukan berapa jumlah penduduk kota A pada tahun 2024!
A. 124215 jiwa
B. 113036 jiwa
C. 93604 jiwa
D. 85180 jiwa
28. Kota A diketahui mempunyai data demografi sebagai berikut: tingkat kematian 3%, tingkat kelahiran 2%, imigrasi 2% dan emigrasi 4%. Apabila pada tahun 2017 penduduk kota A adalah 23000 jiwa, tentukan jumlah populasi kota A pada tahun 2020!
A. 25110 jiwa
B. 24379 jiwa
(C dan D tidak tercantum dalam soal asli)
29. Pada sebuah ekosistem air terdapat tumbuhan hydrilla, plankton, burung bangau dan ikan. Apa yang akan terjadi jika ikan ditangkap secara berlebihan?
A. populasi plankton turun, populasi bangau naik
B. populasi hydrilla turun, populasi plankton naik
C. populasi plankton naik, populasi burung bangau turun
D. populasi bangau turun, populasi hydrilla tetap
30. Jumlah rantai makanan yang terjadi berdasarkan gambar di samping adalah...
A. 3
B. 4
C. 5
D. 6
31. Area konservasi yang mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi adalah...
A. Taman Nasional
B. Taman Hutan Raya
C. Taman Wisata Alam
D. Cagar Alam
32. Dalam suatu ekosistem terdapat tumbuhan yang merupakan kelompok produsen, hewan karnivora dan hewan herbivora. Berdasarkan informasi di atas, yang termasuk trofik tingkat II adalah ....
A. hewan herbivora
B. hewan karnivora
C. tumbuhan
D. hewan herbivora dan karnivora
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments