thumbnail

Ringkasan Materi IPS (Geografi Indonesia, Iklim dan Sumberdaya)

Ringkasan Materi IPS (Geografi Indonesia)


1. Letak dan Pengaruhnya terhadap Indonesia

  • Letak Astronomis: Posisi suatu wilayah berdasarkan garis lintang dan garis bujur.

    • Pengaruh: Indonesia terletak di garis khatulistiwa (6° LU - 11° LS) sehingga beriklim tropis. Ciri-ciri iklim tropis:

      • Suhu udara tinggi sepanjang tahun.

      • Curah hujan tinggi.

      • Kelembapan udara tinggi.

      • Tidak ada perbedaan musim dingin dan panas yang ekstrem, yang ada adalah musim hujan dan musim kemarau.

  • Letak Geologis: Posisi suatu wilayah berdasarkan bentuk dan susunan batuan di bumi.

    • Pengaruh: Indonesia dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik.

      • Sirkum Mediterania: Membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

      • Sirkum Pasifik: Membentang dari Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

    • Dampak Letak Geologis:

      • Memiliki banyak gunung api.

      • Tanah menjadi subur (kaya abu vulkanik).

      • Memiliki potensi mineral dan barang tambang.

  • Letak Geografis: Posisi suatu wilayah berdasarkan kenyataan di permukaan bumi.

    • Pengaruh: Indonesia terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik). Dampaknya:

      • Menjadi jalur perdagangan internasional.

      • Memiliki iklim musim (dipengaruhi angin muson).

2. Iklim dan Musim di Indonesia

  • Faktor Penyebab Iklim di Indonesia:

    • Letak Astronomis (Iklim Tropis).

    • Wilayah Kepulauan (Iklim Laut): Karena wilayah perairan lebih luas dari daratan dan diapit dua samudra besar, maka Indonesia beriklim laut.

    • Angin Muson: Angin yang bertiup bergantian setiap setengah tahun.

  • Jenis Angin Muson di Indonesia:

    • Angin Muson Barat:

      • Waktu: Oktober - April (kira-kira).

      • Arah: Dari Benua Asia (tekanan maksimum) menuju Benua Australia (tekanan minimum). Melewati Samudra Hindia yang luas sehingga banyak membawa uap air.

      • Dampak: Menyebabkan Musim Hujan di Indonesia.

    • Angin Muson Timur:

      • Waktu: April - Oktober (kira-kira).

      • Arah: Dari Benua Australia (tekanan maksimum) menuju Benua Asia (tekanan minimum). Melewati gurun-gurun di Australia yang kering sehingga tidak banyak membawa uap air.

      • Dampak: Menyebabkan Musim Kemarau di Indonesia.

  • Pembagian Musim:

    • Musim Hujan: Umumnya terjadi pada bulan Oktober - Maret (puncaknya sekitar Desember-Februari).

    • Musim Kemarau: Umumnya terjadi pada bulan April - September.

  • Pengaruh Posisi Semu Matahari:

    • 22 Desember: Matahari berada di garis balik selatan (23,5° LS), menandai puncak musim hujan di sebagian besar Indonesia.

3. Bentang Alam dan Wilayah Indonesia

  • Relief Dasar Laut:

    • Palung Laut / Trotoar: Lembah atau cekungan sempit dan sangat dalam di dasar laut dengan dinding yang curam.

  • Pembagian Wilayah Indonesia (Berdasarkan Garis Wallace dan Weber):

    • Paparan Sunda: Wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, Kalimantan). Dulu menyatu dengan Benua Asia.

    • Paparan Sahul: Wilayah Indonesia bagian timur (Papua, Kepulauan Aru). Dulu menyatu dengan Benua Australia.

    • Garis Wallace: Garis pemisah antara wilayah barat dan tengah (dunia flora fauna Asia dengan peralihan).

    • Garis Weber: Garis pemisah antara wilayah tengah dan timur (dunia flora fauna peralihan dengan Australia). Wilayah Indonesia bagian tengah dan barat dibatasi oleh Garis Wallace.

  • Tanah:

    • Tanah Vulkanik (Tanah Andosol): Berasal dari pelapukan material gunung api. Sangat subur dan kaya unsur hara, baik untuk pertanian.

    • Jenis tanah lainnya: Aluvial (endapan sungai), laterit (tanah tua, tidak subur), gambut (hasil pelapukan organik).

  • Potensi Sumber Daya Alam:

    • Pertanian: Karena tanahnya yang subur, sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian di sektor pertanian.

    • Kehutanan: Hutan memiliki berbagai fungsi, salah satunya sebagai fungsi hidrologis yaitu mengatur tata air, berfungsi sebagai pembersih dan penyaring air serta mencegah banjir dan erosi.

thumbnail

Kedatangan Bangsa Barat di Indonesia, Imperialisme dan Kolonialisme

 

RINGKASAN MATERI

Kedatangan Bangsa Barat di Indonesia, Imperialisme dan Kolonialisme

IPS Kelas VIII


A. PENGERTIAN IMPERIALISME DAN KOLONIALISME

Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menguasai bangsa lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan.

Imperialisme kuno (sebelum Revolusi Industri) memiliki semboyan Gold, Glory, and Gospel yang artinya:

  • Gold = Kekayaan (mencari rempah-rempah dan kekayaan)

  • Glory = Kejayaan (mencari kejayaan bangsa)

  • Gospel = Penyebaran agama (menyebarkan agama Nasrani)

Imperialisme modern (sesudah Revolusi Industri) bertujuan:

  • Mencari bahan mentah

  • Mencari pasar yang luas

  • Tempat penanaman modal


B. LATAR BELAKANG KEDATANGAN BANGSA EROPA

Faktor-faktor yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera:

  1. Jatuhnya Konstantinopel tahun 1453 ke tangan Turki Usmani, sehingga jalur perdagangan Asia-Eropa terputus

  2. Kemajuan teknologi maritim:

    • Penemuan kompas

    • Teleskop

    • Peta dunia

    • Kapal yang lebih canggih

  3. Membuktikan teori Copernicus bahwa bumi itu bulat

  4. Terinspirasi kisah perjalanan (seperti petualangan)


C. NEGARA PELOPOR DAN TOKOH PELAYARAN

Negara Pelopor Penjelajahan Samudera:

Portugis dan Spanyol

Tokoh-tokoh Penting:

BangsaTokohPencapaian
PortugisBartholomeus Diaz (1486)Mencapai ujung selatan Afrika (Tanjung Harapan)
Vasco da GamaMencapai Asia (India) untuk pertama kali
Alfonso de AlbuquerqueTokoh Portugis di Asia
SpanyolChristopher ColumbusMengarungi Samudera Atlantik, menemukan Benua Amerika
Ferdinand MagelhaensMembuktikan bumi bulat melalui pelayaran ke timur via barat
BelandaCornelis de Houtman (1596)Tiba di Banten, Indonesia

D. PERJANJIAN TORDESILLAS (1494)

  • Ditandatangani di Tordesillas, Spanyol pada 7 Juni 1494

  • Isi: Membagi wilayah kekuasaan antara Portugis dan Spanyol

    • Wilayah sebelah barat Benua Eropa → milik Spanyol

    • Wilayah sebelah timur Benua Eropa → milik Portugis


E. KEDATANGAN BANGSA BARAT KE INDONESIA

Bangsa Portugis

  • Pelayaran pertama menyusuri pantai barat Afrika, dipimpin Bartholomeus Diaz

  • Berhasil menguasai beberapa wilayah di Indonesia bagian timur

  • Akhirnya terdesak oleh Belanda, hanya menguasai pulau yang kini menjadi Timor Leste

Bangsa Belanda

  • 1596: Armada Cornelis de Houtman tiba di Banten

  • 1602: Mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)


F. VOC (VEREENIGDE OOSTINDISCHE COMPAGNIE)

Tujuan Pendirian VOC (1602):

  1. Mengatur perdagangan bangsa Eropa di Indonesia

  2. Menyaingi pedagang Inggris di India

  3. Mencegah persaingan di antara pedagang Belanda sendiri dan pedagang lainnya

  4. Memperkuat posisi Belanda dalam perdagangan internasional

Gubernur Jenderal VOC:

  • Pieter Both → Gubernur Jenderal VOC pertama

  • Jan Pieterszoon Coen

  • Antonio van Diemon

Hak Istimewa VOC (Hak Octrooi):

  1. Mencetak uang sendiri

  2. Memiliki tentara sendiri

  3. Mengadakan pemerintahan sendiri

  4. Menyatakan perang dan damai

  5. Monopoli perdagangan

  6. VOC sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia

Faktor Kemunduran VOC:

  • Korupsi di kalangan pegawai VOC

  • Persaingan dagang

  • Biaya operasional tinggi

  • Hutang menumpuk

Akibat Runtuhnya VOC:

  • Kas negara Belanda mengalami kekosongan

  • Kekuasaan di Indonesia dipegang langsung oleh pemerintah Belanda


G. PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA

1. Masa Daendels (Gubernur Jenderal)

  • Mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris

  • Membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan (±1000 km)

  • Membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya

  • Membangun pangkalan armada

  • Kebijakan keras sehingga dicopot tahun 1811

2. Masa Inggris (1811-1816)

  • Kekuasaan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles

  • Membangun Kebun Raya Bogor

  • Menerapkan Sistem Sewa Tanah (Landrent System)

  • Menulis buku "History of Java"

  • 1816: Inggris menyerahkan kembali kekuasaan kepada Belanda

3. Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

  • Pengusul: Van den Bosch

  • Tujuan: Menyelamatkan keuangan Belanda yang rapuh akibat korupsi, krisis ekonomi, dan perlawanan rakyat

  • Ketentuan: Petani wajib menyerahkan 1/5 tanahnya untuk tanaman ekspor

  • Penyimpangan: Eksploitasi besar-besaran terhadap SDA dan tenaga manusia

  • Dampak bagi Belanda: Perdagangan berkembang pesat, kas negara terisi

  • Dampak bagi Indonesia: Tekanan fisik dan mental, kemiskinan

4. Pemerintah Hindia Belanda

  • Setelah VOC bubar, kekuasaan kolonial dipegang langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda


H. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN KOLONIAL

KebijakanMasaKeterangan
Cultuurstelsel (Tanam Paksa)Van den BoschEksploitasi agraris
Landrent System (Sewa Tanah)RafflesPetani menyewa tanah
Pembangunan Jalan RayaDaendelsAnyer-Panarukan
Pembangunan Kebun Raya BogorRafflesKepedulian terhadap botani

Kebijakan yang Bukan Termasuk Hak VOC:

  • Mendirikan negara merdeka (BUKAN hak VOC)

  • Menggunakan mata uang negeri jajahan (BUKAN hak VOC, mereka mencetak sendiri)


I. TOKOH-TOKOH PENTING

TokohPeran
Cornelis de HoutmanMemimpin armada Belanda pertama ke Banten (1596)
Pieter BothGubernur Jenderal VOC pertama
Jan Pieterszoon CoenGubernur Jenderal VOC
Van den BoschPengusul Sistem Tanam Paksa
DaendelsGubernur Jenderal, pembangun jalan Anyer-Panarukan
RafflesPenguasa Inggris di Indonesia, penulis History of Java
Van DeventerTokoh Politik Etis
MultatuliPenulis Max Havelaar yang mengkritik tanam paksa

J. ISTILAH PENTING

  • VOC = Vereenigde Oostindische Compagnie (Persekutuan Dagang Hindia Timur)

  • Tanjung Harapan = Ujung selatan Benua Afrika yang ditemukan Bartholomeus Diaz

  • Revolusi Industri = Perubahan produksi dari tenaga manusia/hewan menjadi mesin (dipelopori Inggris)

  • Timor Leste = Bekas jajahan Portugis di Indonesia bagian timur

thumbnail

How Democracies Die - Resensi Buku Bagaimana Demokrasi Mati Steven Levitsky & Daniel Ziblatt

 


Profil Buku

  • Judul: How Democracies Die

  • Penulis: Steven Levitsky & Daniel Ziblatt

  • Penerbit: Crown Publishing (2018)

  • Latar Belakang Penulis: Keduanya adalah profesor ilmu politik di Universitas Harvard yang telah mempelajari keruntuhan demokrasi di seluruh dunia, khususnya di Amerika Latin dan Eropa.


Tesis Utama Buku

Buku ini berargumen bahwa demokrasi modern tidak lagi mati terutama melalui kekerasan seperti kudeta militer, tetapi mati secara perlahan dari dalam (erosi) melalui proses institusional yang sering kali tampak legal. Kematian ini dibawa oleh para pemimpin terpilih (authoritarian populists) yang secara sistematis mengikis lembaga-lembaga demokrasi, seperti peradilan, pers, dan badan pengawas.

Argumen dan Kerangka Konsep Kunci

1. Empat Tanda Peringatan Seorang Calon Autoritarian

Levitsky dan Ziblatt membuat "tes litmus" untuk mengidentifikasi pemimpin yang berbahaya bagi demokrasi. Seorang calon yang memenuhi bahkan satu dari kriteria ini perlu diwaspadai.

  1. Penolakan terhadap Aturan Main Demokrasi (atau Permainannya yang Diperkecil): Meragukan legitimasi pemilu, menolak untuk mengakui kekalahan, atau menggerogoti konstitusi.

  2. Penyangkalan terhadap Legitimasi Lawan Politik: Menggambarkan lawan politik bukan sebagai saingan, tetapi sebagai penjahat, agen asing, atau musuh negara yang tidak sah.

  3. Toleransi atau Dorongan terhadap Kekerasan: Membiarkan atau mendukung kekerasan oleh pendukungnya, atau menolak mengutuk kelompok paramiliter.

  4. Kecenderungan untuk Mencabut Kebebasan Sipil dari Lawan: Berbicara tentang membungkam pers kritis, membatasi kebebasan berbicara, atau mengancam untuk menuntut lawan politik.

2. Penjaga Gerbang (Gatekeeping) yang Gagal

Buku ini menekankan peran kunci partai politik sebagai "penjaga gerbang" demokrasi. Partai-partai politik yang mapan seharusnya menyaring dan mencegah calon-calon yang berbahaya untuk mendapatkan nominasi. Kegagalan partai Republik dan Demokrat di AS untuk menjalankan fungsi ini (dengan menominasikan Donald Trump dan, dalam sejarah, calon-calon yang meragukan) adalah contoh utama dalam buku.

3. Norma Demokrasi yang Tidak Tertulis (The Guardrails of Democracy)

Selain konstitusi dan hukum tertulis, demokrasi bertahan karena adanya norma-norma tidak tertulis yang dipatuhi oleh semua pihak. Dua norma terpenting adalah:

  • Toleransi Mutual (Mutual Toleration): Pihak yang berkuasa dan oposisi saling menerima satu sama lain sebagai rival yang sah. Mereka tidak saling memandang sebagai musuh yang harus dihancurkan.

  • Menahan Diri (Forbearance): Menahan diri untuk tidak menggunakan kekuasaan hingga batas maksimal yang diizinkan oleh hukum. Misalnya, meskipun secara teknis legal, seorang presiden seharusnya tidak memakzulkan lawan politiknya tanpa alasan yang sangat berat.

Ketika norma-norma ini rusak, "penjaga gerbang" demokrasi menjadi lemah.

4. Skenario Kematian Demokrasi: "Menguji Air" dan "Kartu As

Para autokrat modern tidak langsung membubarkan parlemen. Mereka bekerja secara bertahap:

  • Menguji Air (Testing the Waters): Mereka melakukan langkah-langkah kecil yang menguji batas (misalnya, menyerang hakim atau media). Jika tidak ada perlawanan yang kuat, mereka melanjutkan ke langkah yang lebih jauh.

  • Kartu As (The Ace of Spades): Mereka menunggu momen krisis (seperti serangan teror atau kerusuhan ekonomi) untuk melangkah lebih jauh dengan alasan "kebutuhan negara", seperti memberlakukan keadaan darurat yang membatasi kebebasan.

Studi Kasus dan Perbandingan

Buku ini kaya akan contoh sejarah dan komparatif:

  • Contoh Negatif (Kegagalan): Jerman Weimar (naiknya Hitler), Chile (Pinochet), Venezuela (Chávez), Turki (Erdoğan), dan Hungaria (Orbán). Buku ini menunjukkan pola yang sama: seorang pemimpin terpilih yang secara bertahap mengkonsolidasikan kekuasaan.

  • Contoh Positif (Kesuksesan): AS pada era McCarthy (dihadapi dengan norma yang kuat), Belgia dan Finlandia yang berhasil menghadapi krisis tanpa merusak demokrasi. Buku ini juga memuji Franklin D. Roosevelt yang, meski berkuasa lama, tetap menghormati batas-batas demokrasi.

Kritik terhadap Buku

  • Amerika-Sentris: Banyak analisis berfokus pada politik AS dan ancaman dari Donald Trump, yang mungkin terasa kurang relevan bagi pembaca di negara lain.

  • Terlalu Menekankan pada Elit: Beberapa kritikus berpendapat buku ini mengabaikan peran faktor struktural seperti ketimpangan ekonomi dan polarisasi sosial yang lebih dalam.

  • Solusi yang Terlalu Sederhana: Seruan untuk kembali kepada "norma-norma lama" dianggap oleh sebagian orang tidak memadai untuk mengatasi akar masalah polarisasi saat ini.

Relevansi dan Pesan untuk Indonesia

Buku ini sangat relevan untuk dibaca dalam konteks Indonesia dan demokrasi mana pun karena:

  1. Peringatan Dini: Buku ini memberikan alat untuk mengenali tanda-tanda bahaya dalam perilaku politisi, membantu masyarakat untuk lebih kritis.

  2. Pentingnya Lembaga dan Norma: Mengingatkan bahwa konstitusi saja tidak cukup. Kesehatan demokrasi bergantung pada komitmen para politisi untuk bermain fair dan saling menghormati.

  3. Peran Warga Negara: Buku ini menekankan bahwa perlawanan yang luas dan koalisi yang inklusif (melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk dari pihak yang sedang berkuasa) adalah kunci untuk membendung autoritarianisme.