PERDAGANGAN KURUN NIAGA DAN PENGARUHNYA DI NUSANTARA
A. Pendahuluan: Kurun Niaga dan Kedudukan Strategis Asia Tenggara
Istilah "Kurun Niaga" merujuk pada periode perdagangan maritim yang ramai di Asia Tenggara, kira-kira dari abad ke-1 M hingga abad ke-17 M. Pada masa ini, Asia Tenggara menempati kedudukan strategis karena berada di persimpangan jalur perdagangan antara India dan Cina, serta menjadi penghubung antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Kegiatan utamanya bukanlah kolonisasi, migrasi penduduk, atau perdagangan upeti, melainkan perdagangan maritim yang melibatkan berbagai komoditas seperti rempah-rempah, emas, timah, kayu cendana, dan hasil hutan.
B. Hubungan Awal India-Nusantara: Faktor Pendorong
Menurut sejarawan Van Leur, kekayaan akan keragaman komoditas yang laku di pasaran dunia menjadi daya tarik utama bagi orang-orang dari India pada abad ke-1 M untuk datang ke Indonesia. Tujuan utama mereka adalah melakukan transaksi perdagangan, bukan semata-mata menyebarkan agama atau menaklukkan. Namun, dalam prosesnya, terjadi pula akulturasi budaya dan agama.
Faktor-faktor pendorong terjadinya hubungan perdagangan antara India dengan Nusantara:
Penemuan baru di bidang teknologi perkapalan dan pelayaran – misalnya teknologi perahu bercadik dan pengetahuan tentang angin muson.
Rentannya faktor keamanan perdagangan pada jalur sutra (jalur darat) akibat konflik dan perang, sehingga pedagang beralih ke jalur laut.
Motivasi menyebarkan agama dan kebudayaan India (bersifat sekunder).
Pembatasan perdagangan oleh kaisar-kaisar Cina (bersifat lokal, bukan faktor utama awal).
Dari faktor-faktor tersebut, yang paling dominan sebagai pendorong awal adalah (1) dan (3) – teknologi perkapalan dan ketidakamanan jalur sutra.
C. Kerajaan Sriwijaya: Penguasa Jalur Selat Malaka
1. Kejayaan dan Penyebabnya
Kerajaan Sriwijaya (berpusat di Palembang, Sumatra Selatan) mencapai puncak kejayaannya sekitar abad ke-7 hingga ke-11 M. Faktor utama yang menjadikannya penting dalam interaksi perdagangan kurun niaga di Asia Tenggara adalah perannya sebagai pelabuhan transito – tempat persinggahan, penyimpanan, dan redistribusi barang dari berbagai wilayah. Selain itu, letak Sriwijaya yang dekat dengan Selat Malaka – jalur pelayaran tersibuk antara India dan Cina – menjadikannya penguasa lalu lintas maritim.
2. Bukti Keberadaan dan Hubungan dengan India
Keberadaan Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-14 diketahui dari berbagai prasasti dan laporan asing. Para arkeolog dan sejarawan menemukan bukti hubungan Sriwijaya dengan India pada abad ke-9 melalui Prasasti Nalanda (ditemukan di India, dikeluarkan oleh Raja Balaputradewa dari Sriwijaya). Prasasti ini menyebut pendirian asrama bagi pelajar Sriwijaya yang belajar di Nalanda, India. Prasasti lain yang terkait dengan Sriwijaya:
Prasasti Kedukan Bukit (683 M) – tentang ekspedisi militer Sriwijaya.
Prasasti Kota Kapur (686 M) – kutukan bagi yang berbuat jahat terhadap Sriwijaya.
Prasasti Ligor (775 M) – di Semenanjung Malaya, menunjukkan pengaruh Sriwijaya.
3. Teori F.D. Bosch
F.D. Bosch adalah seorang epigraf Belanda yang mengemukakan pendapat bahwa hubungan Sriwijaya dengan India tidak hanya bersifat dagang, tetapi juga budaya dan pendidikan. Pemikirannya didukung oleh fakta pendirian asrama bagi pelajar Sriwijaya yang belajar di India (seperti dalam Prasasti Nalanda). Ini menunjukkan adanya hubungan yang erat dan terlembaga, bukan sekadar perdagangan biasa.
D. Perdagangan Agraris pada Masa Hindu-Buddha
Selain kerajaan maritim seperti Sriwijaya, di Nusantara juga berkembang kerajaan dengan basis perdagangan agraris (hasil pertanian). Kerajaan-kerajaan yang melakukan perdagangan agraris pada masa Hindu-Buddha antara lain:
Kutai (Kalimantan Timur) – perdagangan hasil hutan dan pertanian lokal.
Tarumanegara (Jawa Barat) – perdagangan beras dan hasil bumi melalui pelabuhan Sunda Kelapa.
Singasari (Jawa Timur) – perdagangan beras dan komoditas agraris lainnya.
Kerajaan seperti Sriwijaya, Kediri, Mataram Kuno juga terlibat perdagangan, tetapi tidak semuanya murni agraris (Sriwijaya maritim, Kediri agraris-maritim). Pasangan yang paling tepat untuk perdagangan agraris adalah Kutai, Tarumanegara, dan Singasari.
E. Kerajaan Malaka: Pusat Perdagangan dan Bahasa Melayu
Setelah kemunduran Sriwijaya, Kerajaan Malaka (Melaka) pada abad ke-15 muncul sebagai pusat perdagangan utama Nusantara. Karakteristik penting di bidang sosial budaya pada masa Kerajaan Malaka adalah penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar perdagangan (lingua franca). Bahasa Melayu yang sederhana dan mudah dipelajari dipakai oleh pedagang dari berbagai bangsa (Arab, India, Cina, Gujarat, dan Nusantara) untuk berkomunikasi. Inilah cikal bakal bahasa Indonesia modern.
Selain itu, Malaka juga menjadi pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara. Namun, ciri sosial budaya yang paling khas adalah peran bahasa Melayu, bukan munculnya ahli tasawuf (yang lebih terkait Aceh) atau karya sastra berbahasa Jawi.
F. Penyebaran Islam Melalui Jaringan Perdagangan
1. Proses dan Faktor Kedatangan Islam di Maluku
Agama Islam masuk ke Nusantara terutama melalui aktivitas perdagangan. Kaum pedagang (dari Gujarat, Persia, Arab, dan Cina) berinteraksi dengan penduduk setempat, menikah, dan mendirikan komunitas. Di Maluku, faktor yang mendorong kedatangan Islam adalah kegiatan perdagangan (bukan eksplorasi daerah baru, penaklukan, atau ekspansi wilayah). Para pedagang mencari rempah-rempah seperti cengkeh dan pala, sekaligus menyebarkan Islam secara damai.
2. Bukti Pengaruh Islam melalui Perdagangan
Salah satu bukti kuat bahwa masuknya pengaruh Islam akibat proses perdagangan internasional adalah letak kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya berada di daerah pesisir pantai. Contoh: Samudera Pasai (Aceh), Demak, Cirebon, Banten, Makassar, Ternate, dan Tidore. Kerajaan-kerajaan ini tumbuh di pelabuhan-pelabuhan strategis yang menjadi simpul perdagangan.
3. Peran Kaum Pedagang dalam Penyebaran Islam
Kaum pedagang menyebarkan agama Islam di Indonesia melalui interaksi sosial antara kaum pedagang dengan penduduk setempat – bukan dengan pemaksaan atau penaklukan. Mereka membangun perkampungan (pekojan), mendirikan masjid, dan mengajarkan Islam secara persuasif. Para penguasa lokal yang tertarik kemudian memeluk Islam, diikuti rakyatnya.
G. Jalinan Perdagangan Asia-Eropa dan Munculnya Kolonialisme
1. Ciri-ciri Penting Jalinan Dagang Asia-Eropa sebelum PD II
Sebelum Perang Dunia II, hubungan dagang antara bangsa Eropa dan Asia ditandai dengan kontrak jalinan dagang yang menimbulkan kolonialisme. Bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) tidak hanya berdagang secara setara, tetapi kemudian memonopoli, menguasai wilayah, dan mengeksploitasi sumber daya. Ini berbeda dengan masa sebelum kedatangan Eropa yang lebih bersifat setara antar pedagang Asia.
2. Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia
Faktor utama yang mendorong bangsa Eropa (Portugis, Belanda, Inggris) datang ke Indonesia adalah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kekaisaran Islam Ottoman pada tahun 1453. Akibatnya, jalur perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa melalui laut Tengah dikuasai oleh pedagang Islam dan Italia (Venesia, Genoa), sehingga harga rempah melambung tinggi. Bangsa Eropa mencari jalur laut langsung ke sumber rempah-rempah di Nusantara.
3. Persamaan Latar Belakang Portugis dan Belanda
Kesamaan alasan kedatangan bangsa Portugis dan Belanda ke Indonesia adalah kesulitan memperoleh rempah-rempah setelah jatuhnya Konstantinopel. Keduanya juga ingin memotong rantai monopoli pedagang Islam dan Italia. Tidak benar bahwa keduanya memiliki alasan keagamaan yang sama (Portugis membawa misi penyebaran Katolik, Belanda lebih pragmatis dagang), atau keduanya kalah perang dengan Spanyol, atau sama-sama dari Jazirah Andalusia.
H. Rute Perjalanan Bangsa Belanda ke Indonesia
1. Rute Awal yang Ditempuh
Rute awal perjalanan orang Belanda ke Indonesia (paling terkenal ekspedisi Cornelis de Houtman, 1595-1597) adalah:
Pantai Barat Afrika – Tanjung Pengharapan (Cape of Good Hope) – Samudra Hindia – Pantai Barat Australia – Selat Sunda – Banten.
Pernyataan yang tepat sesuai fakta sejarah adalah: Pantai Barat Afrika – Tanjung Pengharapan – Samudra Hindia – Pantai Barat Australia – Banten. (Tidak melalui Selat Ormuz atau Madagaskar secara langsung).
2. Alasan Tidak Melewati Selat Malaka
Belanda sengaja tidak menggunakan jalur Selat Malaka karena menghindari Portugis yang sudah menguasai Malaka sejak 1511. Portugis telah mendirikan benteng dan memonopoli perdagangan di Selat Malaka. Belanda mencari jalur alternatif melalui Selat Sunda (antara Sumatra dan Jawa) untuk masuk ke Banten, yang saat itu merupakan pelabuhan bebas dan bersaing dengan Malaka.
I. Kebijakan VOC: Pelayaran Hongi
Setelah mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, 1602), Belanda melakukan berbagai tindakan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, terutama di Maluku. Salah satu kebijakan yang terkenal adalah Pelayaran Hongi.
Pelayaran Hongi adalah pelayaran armada perang VOC yang berkeliling di perairan Maluku untuk:
Mencegah perdagangan penduduk setempat dengan pedagang asing (terutama Portugis, Inggris, dan pedagang lokal di luar VOC).
Menebang pohon pala dan cengkeh di wilayah yang tidak dikuasai VOC.
Memaksa kerajaan-kerajaan di Maluku untuk menjual rempah hanya kepada VOC.
Dengan demikian, pernyataan "Pelayaran Hongi dilakukan oleh VOC untuk mencegah perdagangan penduduk setempat dengan pedagang asing di Maluku" adalah benar dalam konteks sejarah.
LATIHAN SOAL
1. Asia
Tenggara pada masa kuno menempati kedudukan strategis karena memiliki peran
dalam kegiatan …
A. kolonisasi
B. perdagangan maritim
C. perdagangan upeti (tributary trade)
D. migrasi penduduk
2. Teori
yang dikemukakan oleh F.D.Bosch merupakan pemikiran yang didukung oleh fakta
berikut….
A. penaklukan Sriwijaya oleh Kekaisaran Cina
B. pendirian asrama bagi pelajar Sriwijaya yang belajar di India
C. perdagangan antara Sriwijaya dengan India
D. perdagangan Sriwijaya dengan Cina
3. Faktor
utama yang menyebabkan kerajaan Sriwijaya penting dalam interaksi perdagangan
pada kurun niaga di Asia tenggara adalah sebagai….
A. Penghasil beras
B. Penghasil kapur barus
C. Penyedia jasa penerjemah
D. Pelabuhan transito
4. Perdagangan
agraris di Indonesia sudah terjadi pada masa Hindu-Budha sebagai bagian dari
jejak perekonomian. Kerajaan-kerajaan berikut ini yang melakukan perdagangan
agraris pada masa Hindu-Budha adalah....
A. Kutai, Tarumanegara dan Singasari
B. Sriwijaya, Kediri dan Mataram Kuno
C. Singasari, Sriwijaya dan Tarumanegara
D. Kutai, Mataram Baru dan Kediri
5. Keberadaan
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-14 dapat diketahui oleh
masyarakat atas jasa para peneliti baik para Arkeolog maupun Sejarawan.
Beberapa fakta terkait keberadaan hubungan antara kerajaan tersebut dengan
India pada abad ke-9 dapat ditemukan pada Prasasti....
A. Nalanda
B. Ligor
C. Kedukan Bukit
D. Kota Kapur
6. Ciri-ciri
penting jalinan dagang Asia Eropa sebelum Perang Dunia II (PD II) adalah …
A. kontrak dagang dengan bangsa Eropa mendorong kemajuan bangsa Asia
B. kontrak jalinan dagang lebih menguntungkan bagi kedua pihak daripada setelah
PD II
C. bangsa Asia lebih aktif dalam mengekspor barang daripada bangsa Eropa
D. kontrak jalinan dagang antara bangsa Eropa dan Asia menimbulkan kolonialisme
7. Pada
sekitar abad ke-7 sampai abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat
perdagangan di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh …
A. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim
B. letak Kerajaan Sriwijaya di dekat Selat Malaka
C. Kerajaan Sriwijaya memiliki pelaut-pelaut ulung
D. mata pencaharian utama masyarakatnya adalah perdagangan
8. Pernyataan
yang benar berkaitan dengan karakteristik kehidupan di bidang sosial budaya
pada masa Kerajaan Malaka adalah...
A. munculnya kelompok masyarakat golongan majikan dan buruh
B. menghasilkan karya sastra yang menggunakan Bahasa Jawi
C. menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar perdagangan
D. munculnya ahli-ahli tasawuf seperti Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri
9. Perhatikan
pernyataan berikut ini!
(1) Eksplorasi daerah baru
(2) Kegiatan penaklukan
(3) Ekspansi wilayah
(4) Kegiatan perdagangan
Faktor yang mendorong kedatangan Islam di wilayah Maluku ditunjukan oleh nomor
…
A. 1, 2, 3
B. 1, 3
C. 2, 4
D. 4
10. Menurut
Van Leur kekayaan akan keragaman komoditas yang laku di pasaran dunia menjadi
daya tarik bagi orang-orang dari India pada abad 1 M datang ke Indonesia untuk
.
A. melakukan transaksi perdagangan
B. menyebarkan agama Hindu
C. menyebarkan agama Budha
D. menyerang dan menguasai Indonesia
11. Salah
satu bukti yang menunjukkan masuknya pengaruh Islam sebagai akibat proses
perdagangan internasional ditunjukkan oleh letak kerajaan-kerajaan Islam pada
umumnya berada di daerah ...
A. pesisir Pantai
B. sungai
C. daratan
D. tepi danau
12. Perhatikan
pernyataan berikut!
(1) Penemuan baru di bidang teknologi perkapalan dan pelayaran
(2) Motivasi menyebarkan agama dan kebudayaan India
(3) Rentannya faktor keamanan perdagangan pada jalur sutra
(4) Dibatasinya perdagangan oleh kaisar-kaisar Cina
Pernyataan di atas yang menunjukkan faktor-faktor pendorong awal terjadinya
hubungan perdagangan antara India dengan daerah-daerah di Nusantara adalah ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (2) dan (4)
13. Kejatuhan
Konstantinopel yang mendorong bangsa Eropa untuk mencari wilayah baru yang
mampu memenuhi kebutuhan barang dagangan. Pernyataan benar terkait aspek
geostrategis wilayah Indonesia yang menjadi daya tarik bagi negara-negara Eropa
pada abad ke 17 adalah.....
A. Wilayah Indonesia memiliki sumber rempah yang berharga dalam perniagaan
B. Letak astronomi wilayah Indonesia berada pada 6° LU-11° LS dan 95° BT-141°
BT
C. Letak Indonesia diantara dua peradaban besar bangsa India dan bangsa Cina
D. Wilayah Indonesia memiliki tanah vulkanik dan sedimen yang subur
14. Kaum
pedagang menyebarkan agama Islam di Indonesia melalui aktivitas...
A. interaksi sosial antara kaum pedagang dengan penduduk setempat
B. interaksi sosial antara kaum pedagang dan penduduk
C. pemaksaan melalui aktivitas dagang
D. penaklukan oleh kaum pedagang terhadap penguasa setempat
15. Faktor-faktor
yang mendorong kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia adalah jatuhnya...
A. Bizantium, mencari rempah-rempah dan barang tambang
B. Bizantium, kekuasaan, ekonomi, keagamaan
C. Konstantinopel, kebutuhan tentang bahan mentah dan baku
D. Konstantinopel, menyebarkan peperangan dan kekuasaan
16. Kesamaan
latar belakang bangsa Portugis dan bangsa Belanda masuk ke Indonesia adalah....
A. Keduanya berangkat dengan alasan aspek keagamaan yang sama
B. Keduanya mengalami kekalahan dengan Spanyol
C. Keduanya menghadapi kesulitan sehubungan dengan jatuhnya kota Konstantinopel
ke tangan penguasa Islam pada tahun 1453
D. Keduanya terletak di wilayah jazirah Andalusia
17. Persamaan
alasan kedatangan bangsa Portugis dan bangsa Belanda ke Indonesia, adalah:
A. untuk menyebarkan agama yang sama
B. mengalami kekalahan perang dari Spanyol
C. kesulitan memperoleh rempah-rempah
D. untuk mengembangkan wilayah
18. Rute
awal perjalanan orang Belanda ke Indonesia ditunjukan pada pernyataan berikut…
A. Pantai Barat Afrika-Tanjung Pengharapan-Samudra Hindia-Pantai Barat
Australia-Banten
B. Pantai Barat Afrika-Tanjung Pengharapan-Selat Ormuz-Teluk
Aden-India-Malaka-Banten
C. Pantai Timur Afrika-Samudra Hindia-Pulau Madagaskar-Selat
Ormuz-India-Malaka-Banten
D. Pantai Timur Afrika-Tanjung Pengharapan-Pulau Madagaskar-Selat
Ormuz-India-Malaka-Banten
19. Belanda
tiba di Indonesia dengan menempuh jalur pelayaran melewati rute Pantai barat
Afrika – Tanjung Harapan – Samudera Hindia – Selat Sunda – Banten. Rute yang
ditempuh Belanda tidak menggunakan jalur yang melewati selat Malaka dengan
alasan ….
A. mencari jalur yang lebih cepat untuk sampai ke Indonesia
B. menemukan rute baru yang ditempuh Eropa ke Indonesia
C. menghindari Portugis yang sudah menguasai Malaka sejak 1511
D. menaati hasil perundingan untuk mencegah perselisihan
20. Pelayaran
Hongi dilakukan oleh VOC untuk mencegah perdagangan penduduk setempat dengan
pedagang asing di Maluku. (pernyataan, tentukan benar/salah dalam konteks soal
OSN)
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments